Janji Satu Nama

Satu nama yang telah dijanjikanNya mungkin juga tengah menantimu.

Tapi apakah waktumu dalam penantian hanya kau jadikan waktu waktu tanpa makna.

Sedangkan kau hanyalah insan biasa.

Tiadalah dayamu memastikan bilakah waktunya tiba.

Jikapun takdir berpihak padamu. 

Bertemu dan bertaut dua hati yang telah lama memendam rindu maka menjalani takdir selanjutnya butuh perjuangan serta keteguhan iman kepadaNya.

Jikapun garis takdir kematian mendahului atas semua harapan maka semua kerinduan terhadap insan menjadi sia sia.

Sia sia karena tak terbingkai dalam taat PadaNya.

Dibuai angan angan kosong.

Dirayu oleh jiwa yang lemah berbungkus fitrah.

Maka teguhkanlah hati atas semua takdirNya dalam sebaik baik prasangka.

Satu nama akan hadir sesuai JanjiNya.

Jikapun tak bertemu di dunia maka nantikan ia di syurgaNya.

-ks-

Oemar Bakrie

Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi berkata bapak Oemar Bakrie
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali
 
Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu
 
Laju sepeda kumbang dijalan berlubang
Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak Polisi bawa senjata berwajah garang
 
Bapak Oemar Bakrie kaget apa gerangan?
“Berkelahi pak!” jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakrie takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalau cabut kalang kabut (Bakrie kentut) cepat pulang
 
Busyet…standing dan terbang
 
Oemar Bakrie…Oemar Bakrie…
Pegawai Negri
Oemar Bakrie…Oemar Bakrie…
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
 
Oemar Bakrie…Oemar Bakrie…
Banyak ciptakan Mentri
Oemar Bakrie…
Profesor Dokter Insinyurpun jadi
(Bikin otak orang seperti otak Habibie)
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakrie seperti dikebiri
 
Bakrie…Bakrie…
Kasihan amat loe jadi orang
Gawat

 

Tembang lawas yang menjadi salah satu lagu dalam album “Sarjana Muda” yang dirilis pada bulan September 1981 berjudul “Guru Oemar Bakrie” ini pasti tidak asing lagi ditelinga anda yang khususnya sedang beranjak remaja di masa itu. Apalagi anda ternyata seorang Oi, fans beratnya sang legendaris Iwan Fals. Atau anda belum lahir pada masa itu tapi sangat familiar dengan lagu dan liriknya. Seperti saya, anda pasti mengenal lagu tersebut karena hingga sekarang lagu tersebut kerap diputar oleh radio bahkan televisi.

Walau sosok Oemar Bakrie adalah sosok fiksi yang hidup dalam lirik “Guru Oemar Bakrie” tetapi lagu tersebut ada karena pasti ada fenomena yang terjadi pada saat itu terkhusus tentang fenomena kehidupan guru. Hal ini wajar karena memang Iwan Fals adalah salah seorang musisi yang sangat peka terhadap lingkungan masyarakat dan pemerintahan. Terbukti dengan semua lirik yang ia ciptakan bahkan ia dendangkan adalah lirik yang diangkat dari kejadian disekitarnya pada masa itu. Tapi yang dibahas dalam buku ini bukan penyanyinya tapi lirik lagunya. Terkhusus karena lirik lagunya mengangkat tema tentang guru.

Sebagaimana Iwan Fals dalam liriknya menggambarkan sosok Pak Guru Oemar Bakrie adalah seorang pegawai negri yang mengabdi selama 40 tahun. Pribadinya jujur dan bersahaja. Sebuah fakta keniscayaan di Indonesia sampai sekarangpun dipelosok negri pasti ada sosok Oemar Bakrie Oemar Bakrie lainnya. Benar adanya bahwa tak jarang dari profesi guru bisa melahirkan profesi profesi lainnya. Namun profesi lainnya belum tentu bisa melahirkan profesi guru. Namun miris profesi seperti Pak Guru Oemar Bakrie jika gajinya pun tak cukup menjanjikan ekonomi keluarganya mapan seperti penghasilan profesi lainnya. Sebuah ironi yang agaknya ingin disuarakan oleh Iwan Fals melalui lirik lagunya ini. Mengenai kondisi profesi guru tanpa tanda jasa.

Istilah guru sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada masa kerajaan Budha maupun Hindu, orang yang mau belajar membaca dan menulis sansekerta maka ia akan mendatangi Bihara. Di Bihara mereka akan diajari oleh para Biksu. Para Biksu yang mengajarkan membaca dan menulis ini disebut sebagai guru.

Begitupun setelah agama Islam masuk ke Indonesia. Masyarakat yang telah mengenal dakwah islam, mereka berkeinginan sekali untuk bisa membaca Al Qur’an dan melaksanakan ajaran shalat. Sebagaimana perilaku masyarakat yang belajar membaca dan menulis sansekerta begitupun masyarakat yang ingin bisa membaca Al Qur’an dan melakukan shalat dengan benar maka mereka belajar melalui ulama.  Dan ulama pun juga disebut sebagai guru khususnya guru agama.

Beralih zaman hingga masuk masa penjajahan Belanda atas Indonesia. Pemerintahan Belanda saat itu sangat membutuhkan pegawai yang pandai menulis dan membaca huruf latin. Dan demi kepentingan penjajahan maka pemerintahan Belanda mendirikan sebuah sekolah. Di sana masyarakat pribumi diajari menulis dan membaca huruf latin kecuali tentang agama. Dan sekolah inilah yang menjadi cikal bakal sistem pendidikan modern di Indonesia.

Setali tiga uang, jika Belanda mendirikan sekolah maka guru pribumi bersama mendirikan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang didirikan pada tahun 1912. PGHB beranggotakan guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah. Mereka semua umumnya bekerja di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat. Awalnya kiprah PGHB hanya dalam ruang lingkup memperjuangkan nasib para anggotanya yang memiliki pangkat, status sosial dan latar pendidikan yang berbeda. Serta perjuangan memperjuangkan persamaana hak dan posisi terhadap pihak Belanda. Dan terus berkembang melahirkan berbagai organisasi guru lainnya. Hingga akhirnya kiprah PGHB berkembang tidak melulu hanya tentang perjuangan nasib dan persamaan hak guru tetapi tentang semangat nasionalisme semua anggota PGHB melahirkan semangat heroik untuk mewujudkan kata merdeka di bumi pertiwi.

Semangat heroik itu mengejawantah dalam perubahan nama. PGHB bermetamorfosa menjadi PGI (Persatuan Guru Indonesia). Kata Indonesia dalam nama baru PGHB ini sempat membuat Belanda gusar. Betapa tidak tersematnya kata Indonesia dalam nama organisasi ini merupakan simbol bangkitnya semangat perlawanan terhadap Belanda. Tetapi sayang setelah penjajahan beralih tangan ke tangan Jepang, semua organisasi dilarang termasuk PGI.

Rupanya semangat itu belumlah padam, hanya jasadnya saja yang tidak bergerak tetapi ruh semangat perjuangan para guru pribumi masih berkobar. Singkat cerita episode perjuangan guru pribumi disempurnakan dalam sebuah kongres berjarak 100 hari dari Proklamasi Kemerdekaan RI. Pada tanggal 24 – 25 November 1945 di Surakarta semua guru pribumi bersepakat tidak terkotak kotak dalam tingkatan sosial ataupun jenis jabatan dan mereka bersatu demi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan semangat pekik Merdeka pada kongres itu juga dibentuk PGRI (Persatuan Guru Indonesia).

Sungguh jangan pernah melupakan sejarah. Semangat nan mulia dari para guru pribumi. Bukan melulu hanya memperjuangkan hajat hidup diri sendiri tapi untuk kemerdekaan Negara. Tetapi sudah sewajarnya pula Negara tidak melupakan jasa para Pahlawan termasuk perjuangan para guru pribumi. Sehingga kini sudah seharusnya sosok Oemar Bakrie dilirik nasibnya.

This entry was posted on Maret 15, 2016. 4 Komentar

KENAPA AKU MENULIS

“Kurniaty…istirahat menghadap ibu di kantor.” Ucap Bu Fatmawati didepan kelas pagi hari itu.

“Karena ibu nilai tulisan tangan kamu bagus jadi ibu minta tolong sama kamu ya…”

Begitu kurang lebih kalimat Bu Fatmawati 19 tahun lalu. Jelas kuingat kesan pertama saat pelajaran bahasa Indonesia. Gegara tulisan tangan dalam selembar kertas berisi tugas membuat karangan saat itu aku dipilih Bu Fatmawati menjadi sekretaris pribadinya. #cek ile gaya bener sekretaris.

Yah seperti itu kira kira si Ibu memuji sekaligus meminta bantuan padaku yang saat itu masih duduk di SMP kelas 2. Saya-nya ya nyengir kuda dan hampir terbang saat itu. Secara…apalah saya saat itu hanya siswi SMP seperti ABG lainnya yang kerap minta pengakuan atas eksistensi diri. Dan ahaaa ini sesuatu banget ya ada yang memuji, gak tanggung tanggung yang muji itu Guru lho. #sommmbong…sommmbong 😀

Saat ini kalau saya fikir fikir sambil duduk dibawah pohon jambu di pagi yang sendu, Bu Fat-lah yang berjasa hingga saya bisa punya hobi menulis sampai sekarang 😀

Betapa tidak, momen Ibu Fat memanggil saya ke kantor, memuji tulisan tangan dan menunjuk saya jadi sekretarisnya itu menjadi puncak sadarnya saya bahwa saya itu ada nilai plus juga rupanya bukan hanya centil sekelas ABG gitu. Itu yang membuat nilai harga diri saya naik ga kalah sama sembako yang naik melulu hahaa.

Rupanya hobi menulis ini juga tanpa saya sadari sudah ada sedari SD. Kalo gak salah sejak kelas 4 atau 5 SD saya suka nulis surat cinta gitu deh..hehe. Walau suratnya gak ada satupun yang nyampe ke tujuan. Soalnya surat surat cinta saya itu kalau sudah selesai ditulis terus saya simpan di tempat yang hanya saya yang tau 🙂

Aktivitas tulis menulis ini berlanjut sampai saya SMA. Tapi kali ini bukan sekelas surat cinta monyet lagi yang hanya ditulis di secarik kertas dan pakai pensil doang tapi pas SMA sudah agak elit. Diary…iya seingat saya pertama kali punya diary ya pas di SMA. Jadilah diary itu sebagai tong sampahnya curahan hati saya. Tempat bulan bulanan pena saya mencoret seenak udele dewe. Apapun asam manis pahitnya pengalaman di SMA semua masuk. Ketika episodenya manis dan berbunga bunga ya saya percantiklah tulisan di diary dengan spidol warna. Tapi ketika sedang bad mood karena episodenya asam bahkan pahit jadilah tuh diary bukan sekadar penuh tulisan tapi tambah aksen coretan gak karuan tempat pelampiasan emosi hehee. Pokoknya diary saya waktu itu sahabat yang paling top markotop dah.

Riwayat perjalanan tulis menulis sebagai hobi saya sempat mati suri juga. Alasannya sih klasik saat itu, sibuk kuliah. Alhamdulillah mati surinya hanya selama 3 tahunan. #segitu hanya…lammmaaa keles 🙂

Alhamdulillah akhirnya siuman. Nah ini bukan sekadar siuman biasa. Metamorfosanya pantas disyukuri. Pasalnya jika masa masa sekolah tulisan hanya berkutat tentang menumpahkan rasa, kepuasan pribadi dan hanya untuk diri sendiri, tanpa niat langitan. Tetapi tidak dengan aktivitas menulis setelah masa kuliah hingga saat ini. Semakin berkurangnya usia, sebenarnya saya sensi pakai kata yang tersusun dari tiga huruf itu tapi ya sudahlah usia tidak bisa dibohongi 🙂

Sebutlah tua. Iya semakin beranjak tua Alhamdulillah semakin menyadari jatah hidup berkurang. Akhirnya saya mulai aktif lagi menulis dengan niat dan semangat meninggalkan jejak, tentunya jejak yang bermanfaat untuk semua yang membacanya.

Jika semasa sekolah menulis untuk diri sendiri. Tetapi sekarang bertambah untuk bermanfaat bagi semua orang terkhusus untuk orang yang membaca karya tulis saya. Motto hidup yang lambat laun semakin menginternalisasi dalam diri, terambil dari pesan sosok paling mulia yang terlahir di bumi, Rasulullah SAW. “Khairunnas anfauhum linnas”. “Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya”. Walau memang menulis hanyalah salah satu wasilah saja untuk menebar manfaat kebaikan. Tapi itu sangat saya syukuri. Bahwa Allah memberikan nikmat potensi sedikit bisa menulis. Karena potensi yang sedikit inilah semoga berdampak berbagai manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Istimewanya Rasul dibanding Nabi adalah terletak pada kemanfaatan ilmu dan wahyu yang mereka miliki. Jika Nabi untuk diri sendiri tetapi Rasul untuk umatnya. Kurang lebih begitulah yang ingin saya dapatkan dari manfaat menghasilkan karya tulis. Tergugah pula oleh salah satu quote Syaikh Sayyid Khutb yang saya baca beberapa tahun lalu “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus ribuan kepala”. Inilah sekira menjadi salah satu penambah motivasi saya untuk tetap menulis sampai saat ini.

Lalu bagaimana dengan manfaat lainnya dari aktivitas menulis. Semisal mendapat penghasilan tambahan. Jujur saya anggap itu sebagai bonus. Bukan sebagai motivasi utama. Pernah terbaca sebuah kalimat di dalam salah satu ayat qur’an, surat Al Qasas ayat 77. Allah. mengatakan “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …”. Iya sekiranya teks ini sama dengan ungkapan “kejarlah akhirat tapi jangan lupa dunia”. Akhirat yang utama, dunia sambilan/bonus saja. Jadi memang aktivitas menulis bagi saya adalah aktivitas mengejar akhirat. Jika darinya dapat dunia, alhamdulillah bersyukur. Karena sekira jasad telah tiada maka hanya ada tiga jalan wasilah pahala terus mengalir. Jika tidak menjadi anak yang shalih, maka harus punya amal jariyah. Dan jika tidak keduanya maka harus diupayakan melakukan aktivitas yang menebar ilmu bermanfaat. Tidak ada pilihan keempat.

Nah…karena tidak ada pilihan keempat. Maka saya kira tepat jika memilih aktivitas menulis hingga menghasilkan karya yang bisa dinikmati oleh orang banyak yang bisa menjadi jalan amal jariyah dan tentunya semoga sebagai ilmu yang bermanfaat.  So that’s why I still writting. Kenapa aku menulis ya karena itu…sudah dibaca kan ya. #apa sih kalimat penutup gak penting 😀

Ya Allah izinkanlah aku rehat barang sesaat

11173333_10203980340644866_7596426737728190128_n
Ya Allah…izinkan aku rehat barang sesaat.
Saat langkah tertatih terhambat.
Saat jiwa melekat kecewa nan pekat.
Saat diri merasa goyah tak kuat.

Walau aku tau…Engkau belum iya-kan bukan karena tak sayang.
Walau aku tau…Engkau tangguhkan bukan karena tak senang.
Walau aku tau…Justru karena sangat sayang Engkau tundakan.
Walau aku tau…Justru karena sangat kasihnya Engkau akan gantikan.

Tapi ya Allah…izinkan aku rehat barang sesaat.
Menata jiwa yang sempat tercekat.
Menata iman yang sempat melesat.

Wahai Engkau…Rabb-ku yang Maha Melihat.
Izinkanlah aku rehat barang sesaat…
Walau aku tau dunia bukanlah tempat istirahat.
Melainkan Jannah yang penuh nikmat.

Kudekap asa dengan segenap iman

IMG_2515

Kudekap asa dengan segenap iman
Berharap hanya Engkau satu satunya pemberi jawaban
Setiap kali takdir dihadapan
Tak kuelak walau dengan mata sekedipan
Harta
Tahta
Rupa
Tak menjadi pengharapan
Sekian kalinya tetap berharap hanya Engkau satu satunya pemberi jawaban

Tak kan kecewa untuk setiap istikharah yang telah dijalankan
Tak kan merugi untuk setiap musyawarah yang telah dilakukan
Tak kan sedih atas setiap asa yang tertangguhkan
InsyaAllah yakin Engkaulah yang akan segera memberi jalan

Kudekap asa dengan segenap iman
Menuntun jalan kepada yang dibutuhkan
Sabar dan syukur menjadi andalan
Semoga Engkau segera mempertemukan
Kepada insan yang lebih menenangkan

MUDAH HAFAL – Besaran Pokok dan Satuannya (cerita)

sun go kong

“Sun Go Kong kan punya tongkat sakti. Ciri ciri tongkatnya, kuat arus listrik dan bisa mengangkat jembatan Ampera. Nah kalo diukur panjangnya hanya satu meter. Kalo ditimbang massanya hanya satu kilogram. Karena kesaktiannya mendadak banyak orang yang mau punya ni tongkat. Akhirnya dijuallah tongkat sakti si Sun Go Kong. Ada seorang guru dari Cina mau beli juga namanya Suhu Kelvin eh rupanya waktu diskon tongkat terjual habis. Tapi ternyata tongkat sakti ada duplikatnya. Kalo benar benar mau kita harus catat identitas cahaya di jendela dan ambil jumlah zatnya di mol.”

Ada yang bisa identifikasi dari cerita diatas, mana besaran pokok dan mana satuannya 🙂

Let’ cek it out…

Besaran Pokok           Satuan                Dalam cerita diplesetkan

Kuat Arus Listrik         Ampere (A)          Ampera (nama jembatan di kota Palembang)

Panjang                    Meter (m)

Suhu                        Kelvin (K)

Waktu                      Sekon (s)            Diskon

Intensitas Cahaya      Candela               Jendela

Jumlah Zat                Mol


MUDAH HAFAL – Besaran Pokok (singkatan)

Nama Nama Besaran Pokok :

PAnjang

MAssa

INtensitas CAhaya

Kuat Arus LIstrik

SUhu

wakTU

JUmlah zat


Agar mudah ingat, maka kita singkat menjadi :

Pa Ma Inca Kali Su Tu Ju

Panjang Massa Intensitas cahaya Kuat arus listrik Suhu Waktu Jumlah zat