Ibrah di Waktu Dhuha

Pagi itu kulangkahkan kaki dengan penuh semangat. Sama seperti dua hari sebelumnya. Aku nikmati rutinitas pergi ke tempat kerja dengan berjalan kaki menyusuri jalan perumahanan yang tak banyak dilalui kendaraan bermotor sehingga bisa kuhirup segarnya udara pagi. Perjalanan dari “Pondok Hijau” kosanku, menuju kantor hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki. Berjalan kaki 20 menit menuju kantor bagiku sama dengan olahraga “kecil” yang menyenangkan. Betapa tidak, olahraga berjalan kaki bisa membuat keringat dengan rela hati menampakkan diri ke atas permukaan kulitku. “Keringat sehat” namanya. Ini berarti di dalam tubuhku sedang ada pembakaran lemak yang kuyakini tentu ini baik untuk kesehatan. Menyenangkan bukan?, pergi ke kantor tanpa mengeluarkan ongkos angkot plus olahraga sehat. Dua manfaat yang kudapatkan dari aktivitas pagi.

Tas gembol sudah siap ku panggul di punggung. Headset ditelingapun siap mengeluarkan sayup sayup suara yang berasal dari Handphone menemani perjalananku sampai kantor. Lalu mulai ku langkahkan kaki di pagi itu dengan basmalah menyusuri jalan sambil komat kamit mulutku mengikuti suara yang sayup sayup terdengar di telinga. Kondisi sekitar perumahan yang kulewati tampak seperti biasa. Para Ibu sudah bersiap menjemur pakaian yang sudah dicucinya, melintasi sekolah PAUD dan terlihat anak anak ceria mengikuti intruksi sang ibu guru, di pinggir jalan tampak ibu ibu mengerumuni berbagai sayur yang dijajakan, serta lalu lalang kendaraan bermotor yang menyelisihi langkah kakiku. Semua terlihat beraktivitas seperti biasanya.

Langkah penuh semangat dan hati yang gembira menghiasi perjalananku pagi itu. Sampai pada saat kulihat ada sepasang orang tua yang kuduga mereka berdua adalah suami-istri. Seketika itu kutatapkan mataku mengarah kepada mereka berdua yang berjalan berlawanan arah dan berseberangan denganku. Sambil terus berjalan, kuperhatikan mereka tanpa sedikitpun berkedip. Keduanya tampak berpenampilan sederhana dan bersahaja. Sang Bapak terlihat memanggul keranjang yang bagian depan dan belakangnya dipenuhi buah durian. Sedangkan Si Ibu berjalan disampingnya sembari memegangi pundak Sang Bapak. Aku fikir saat itu, kenapa Si Ibu memegangi pundak Si Bapak. Bukankah Si Bapak bisa rikuh selama berjalan. Ternyata semakin langkah mereka mendekat kearahku semakin terlihat olehku bahwa kedua mata Si Bapak tidak bisa melihat (buta). Sehingga Si Ibu harus memegang salah satu pundaknya untuk menuntun jalan. “MasyaAllah…Subhanallah” ucapku lirih, haru memperhatikan kedua orang tua tersebut. Walaupun dengan kondisi demikian, Si Bapak tampak tanggguh memanggul dua buah keranjang yang berisi penuh durian itu. Dan Si Ibu tetap terlihat sabar mendampingi suaminya berjalan untuk menjual semua durian yang mereka bawa. “MasyaAllah…MasyaAllah…Semoga Allah merahmati kalian berdua” ucapku dalam hati seraya melihat mereka hingga berlalu dari arahku.

Bapak dan Ibu penjual durian telah mengajarkanku arti semangat hidup dan rasa syukur di pagi itu. Aku setiap hari kerja hanya memanggul tas berisi laptop yang beratnya mungkin tidak sampai dua kilo. Beberapa menit Aku berjalan kaki toh akan segera sampai ke kantor dan bisa langsung istirahat, duduk bahkan nyambung sarapan pagi. Tapi berbeda dengan Si Bapak. Dia harus memanggul durian di sisi depan dan belakangnya, yang beratnya sudah barang tentu bukan berkisar hanya sekilo atau dua kilogram saja tetapi lebih berat dari itu. Dan durian tersebut tetap akan dipanggul tanpa berkurang berat bebannya sampai ada orang yang membeli durian tersebut. Sedangkan itu tidak tau harus menempuh jarak perjalanan berapa kilo lagi hingga bertemu dengan pembeli. Bisa kurasakan betapa lelahnya Si Bapak dalam kondisi seperti itu. Memanggul dua buah keranjang yang berisi penuh durian dan dirinya sendiri dalam kondisi tidak dapat melihat. MasyaAllah…Sungguh Aku harus bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadaku.

Betapa tegarnya mereka ditengah segala kondisi mereka. Betapa ikhlas dan sabarnya mereka menjalani hidup yang telah diamanahkan Sang Khalik. Meski usia telah senja, ditopang raga yang telah renta, mereka tak jua putus asa menjemput rezeki yang halal.

Sempat terbersit di benakku. Apakah mereka punya anak? Kemanakah anak – anak mereka?!…Bukankah orang tua seusia mereka lebih layak untuk menikmati hari tua di dalam rumah mereka. Tanpa harus bersusah payah keluar rumah untuk mencari nafkah. Karena ada anak – anak mereka yang sepatutnya menanggung hidup mereka. Meskipun sepengetahuanku diantara banyak orang tua lebih banyak yang tidak mau berdiam diri hanya di rumah. Ditanggung kehidupannya oleh anak – anak mereka. Dengan alasan kasihan kepada anak – anak mereka. Karena mungkin anak – anak mereka mempunyai keluarga juga yang harus dinafkahi. Tapi apapun alasannya orang tua tetaplah orang tua. Sepatutnya kita berbakti kepada orang tua. Membantu kehidupan mereka…apalagi mereka telah renta.

Sulitnya kehidupan tidak akan berarti apa apa jika hati dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Mungkin kata kata itulah yang tepat untuk mengambil ibrah di waktu dhuha pada saat itu. Semoga Aku bisa mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepadaku dan sebagaimana janji Allah, ketika kita bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat dan ketika kita tidak bersyukur maka ingatlah azab Allah sangatlah pedih.

#lihat sekitar kita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s