“Selembar uang kertas”

Apa kabarmereka? Adakah perubahan pada kondisi mereka sekarang dibanding waktu itu?

Masih kuingatsorot mata polos anak perempuan itu menatapku. Pun masih jelas kuingat segudangtanya dalam batinku saat melihat mereka berdua. Ku perhatikan kondisi merekadari ujung kaki sampai dengan kepala. Mereka memakai sandal jepit yang alasnyasudah tipis sekali dan bagiku sudah tak layak lagi untuk digunakan sebagaipelindung kaki. Keduanya-pun memakai pakaian sederhana tapi tetap tampak kesanbahwa pakaian itu sudah lusuh. Tubuh keduanya relatif kurus dengan balutanwarna kulit yang tampak jelas sering terkena sengatan matahari dan tidakterawat.

Pertemuan ituberlangsung beberapa kali. Aku tidak sengaja naik angkot yang sama denganmereka. Mereka sudah terlebih dahulu berada di angkot. Mungkin mereka naik dariterminal yang tidak jauh dari rumahku. Pada setiap kesempatan pertemuan di pagiitu yang paling kuingat adalah tatapan anak perempuan itu. Seketika kubalastatapannya dan diapun langsung mengalihkan pandangannya. Balik kutatap secarabergantian Ibu dan anak perempuan itu. Terbersit rasa prihatin dan sejuta tanyadibenakku. Mau kemana mereka dan sebenarnya apa yang mereka kerjakan???Jika akusetiap pagi naik angkot yang sama dengan mereka, berpenampilan rapih dan bersihmenuju kantor untuk kerja. Mungkinkah Si Ibu juga kerja? Tapi tidak mungkinanak perempuan itupun ikut kerja. Anak perempuan itu seharusnya setiap pagipergi sekolah. Karena anak perempuan itu kukira usianya tidak jauh selisihnya dengansalah satu keponakanku yang pada saat itu duduk di kelas 4 SD. Tapi mengapasetiap pagi dia selalu bersama Ibunya.

Setiap kalikubertemu Ibu dan khususnya anak perempuan itu, aku merasa iba. Dan aku berniatmemberikan anak perempuan itu uang. Pada lain kesempatan, Allah menakdirkankami bertemu lagi  dalam satu angkot.Kesempatan itu tidak kulewatkan untuk menunaikan niatku. Walaupun sempatterbersit ragu dihatiku, apa Si Ibu mengizinkan anaknya menerima pemberianku,Si Ibu merasa tersinggung tidak dengan pemberianku. Sampai turun angkot, akumasih belum berani untuk menyapa dan memberikan selembar uang ke anak itu. Sampaiaku teringat pesan mama-ku bahwa “jika dalam hatimu terbersit untuk melakukankebaikan maka jangan tunda. Lakukan saja”…hmm..tak ku buang kesempatan yangada, kebetulan kita turun di perempatan jalan yang sama. Mereka berjalan satumeter didepanku. Aku bergegas menyusul mereka dan akhirnya kuberanikan dirimenyapa “Ibu maaf…” dan mereka seketika itu memberhentikan langkah kakimereka seraya membalikkan badan ke arahku. Aku berjalan cepat menuju ke arahmereka “Maaf Bu, ini untuk adik…semoga bermanfaat” ucapku seraya menyodorkanselembar uang ke anak perempuan itu. Lantas Si Ibu berkata “terima kasihkak…” dan si anak perempuan itu tidak mengatakan apa apa hanya terlihatwajahnya yang polos menatapku tanpa ekspresi. Hanya sampai disitu pertemuan akulangsung dengan mereka. Hari hari berikutnya aku tidak pernah satu angkot lagidengan mereka.

Pada satu ketika,setelah kita tidak pernah bertemu lagi diangkot yang sama. Aku tidak sengajadari dalam Bus melihat anak perempuan itu duduk dibawah pohon dan Si Ibu sedangmengemis didepan pintu rumah makan. MasyaAllah…seketika itu aku rasanya inginmenangis…yang aku ingat hanya sorot mata dari wajah polos anak perempuan itu.Mungkin karena ingat anak perempuan itu yang membuat aku semakin ingin menangispada saat itu. Selembar kertas itu tidaklah menjadi solusi atas kondisi mereka.Mengapa Si Ibu harus mengemis, tidak adakah pekerjaan lain yang bisa dialakukan. Mengapa juga harus membawa serta anak perempuannya yang masih kecildan seharusnya dia bersekolah sama seperti anak anak seusianya. Walaupunmungkin ada faktor faktor lain yang menyebabkan mereka terpaksa mengemis danaku tidak tahu itu. Sempat terfikir olehku, daripada mengemis bukankah lebihbaik Si Ibu kerja dengan menjadi buruh cuci. Jika Si Ibu mau berusaha mencaripeluang kerja itu insyaAllah pasti ada saja yang mau menerimanya. Anakperempuannya, seharusnya dia sekolah. Dan Si Ibu tidak harus mengemis lagi.

…Seiringingatanku pada malam ini tentang anak perempuan itu. Aku berdo’a semoga Allahmemberikan mereka kehidupan yang lebih baik daripada waktu itu…aamiin…

#angkot Perum – Kuto Palembang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s