Kaos Kakipun Menjadi Saksi

Gambar

“Baiklah teman teman…bismillah, kita turun sekarang!” sergahku memecah suasana.

“Apaaa…” kesemua temanku menyahut heran.

“Duh Ni, tapi kan hujannya belum juga reda…dingin bangettt…” ucap salah satu temanku seraya melipatkan kedua kaki dan merapatkan jaket yang dipakainya.

Seketika suasana di dalam mobil senyap kembali. Kami semua memandang pemandangan diluar melalui jendela.

Kami sekarang berada di atas ketinggian 1800 mdpl. Area sekitar Gunung Wilis Jawa Timur. Iya…tujuan perjalanan kami kali ini adalah Dolo, air terjun Dolo yang berada di kaki gunung Wilis Jawa Timur. Setelah melalui jalan yang mendaki ditemani gemuruh angin dan hujan, kami tetap melanjutkan perjalan menuju Dolo. Dan akhirnya alhamdulillah kami selamat sampai diatas pegunungan, jalan menuju air terjun Dolo.

“Tapi sampai kapan kita di sini???” “Percuma dong kita ke sini tapi tidak turun ke bawah, melihat Dolo…” sungut temanku.

“Iya…susah payah kita sudah sampai di sini, kalo nunggu hujan, ya ga tau kapan hujannya reda” imbuh temanku yang lain.

“Iya makanya…hayuk kita keluar sekarang…kita shalat dzuhur dulu baru kita turun kebawah” imbuhku.

Benar saja…segera setelah aku buka pintu mobil, desiran angin yang membawa buliran buliran air hujan menerpa wajahku. Berrr…angin semuanya menyelinap masuk ke seluruh tubuhku. Seketika itu juga aku menggigil dan merasakan bibir serta jemari tanganku nyaris beku. Walau aku sudah pakai pakaian tebal dan berlapis lapis, tetap saja aku merasakan dinginnya udara pada saat itu.

Daerah sekitar pegunungan dipenuhi kabut dengan jarak pandang hanya dua meter dan cuaca ekstrim, kami tetap turun ke bawah menuju kaki Gunung Wilis tempat air terjun Dolo bersemayam.

Anak tangga demi anak tangga kami laluidengan kondisi tubuh yang separuh menggigil dan jemari kaki serta tangan yang nyaris kaku. Kami berusaha tetap melangkah menyusuri jalan. Karena tidak kuat dengan kondisi yang membuat kaki kram, akhirnya kami memutuskan sementara singgah di sebuah (gubuk) warung sederhana. Di sepanjang jalan menuju Dolo, tepatnya dibibir jurang yang terjal.Beberapa warung sengaja dibuat untuk para pengunjung seperti kami ini untuk rehat sejenak.

“Ni, gimana kalo kita buka kaos kaki aja?Kakiku udah hampir kram..” Ucap salah satu temanku sambil meremas kakinya yang dibalut kaos kaki yang basah kuyup.

“oalah…buka kaos kaki?” imbuhku.

“iya, kan ga ada laki laki lewat…”.

“hmmm…gimana ya?”

“iya kakiku juga kedinginan…gimana kalo kita buka kaos kakinya saat berada didalam warung saja ya, nanti kita pakai lagi saat kita melanjutkan perjalanan” ucapku.

“Tapi kaki kita kan sudah kecut…dingin banget“ sahut temanku.

“Tenang, In syaa Allah syariat tidak akan membuat kita sampai mati…” imbuhku kepada temanku sambil tersenyum.

“baiklah Ni…” sahut temanku.

Iya, kami semua adalah wanita muslimah yang terus berupaya menjadi wanita muslimah sesungguhnya. Mulai dengan mengenakan busana yang disyariatkan agama. Dari atas hingga ke bawah dipakaikan penutup. Pastinya kecuali wajah dan telapak tangan. Sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an surat An Nur 31 dan Al Ahzab 59.

Seketika aku teringat pengalaman pada masa awal mengenakan hijab sebelas tahun yang lalu.

“alah Ni…mau ke warung aja pakai kaos kaki segala…” “lah warungnnya deket ini…lagian kan ini malam, orang juga ga kelihatan kamu pakai kaos kaki atau engga” seloroh kakakku.

Atau ketika aku hendak menjemur pakaian dan membeli sayur ke Bapak tukang sayur…Aku selalu memakai kerudung, gamis dan kaos kaki sebelum keluar rumah.

“haduhhh adikku ini, ntar kamu dibilang orang aneh lho sama tetangga masa’ pakai sandal jepit pakai kaos kaki segala…” ucap kakakku

“gapapa kali kak…justru orang aneh itu yang dicari…” sahutku seraya tersenyum.

Nyengir sendiri kalo ingat masa masa itu. Tapi alhamdulillah sekarang semua sudah pada faham kebiasaan dan memaklumi prinsip adiknya ini.

Iya, memang di dalam Al Qur’an tidak secara eksplisit Allah perintahkan memakai kaos kaki. Tetapi perintah menutup aurat bagi wanita mukmin sangat jelas disebutkan. Aurat wanita itu mulai dari atas kepala hingga ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga menggunakan kaos kakipun termasuk menjadi sebuah kewajiban jika tujuannya untuk menutup aurat kaki wanita mukmin.

Pengalaman dibilang orang aneh, sok alim sampai resiko yang langsung diterima seperti pengalaman kedinginan di Dolo semoga tidak menjadikanku termasuk orang orang yang menggadaikan hijab.

Alhamdulillah akhirnya kami berada di anak tangga terakhir, jalan menuju Dolo. MasyaAllah air terjunnya sungguh indah. Tak henti kami bertasbih karena kagum melihat keindahan air terjun Dolo.

“Mutiara itu adanya jauh didasar lautan”. Tertutup, sulit dijangkau tetapi bernilai.

“Aku yakin pakaian takwa akan menghantarkanku kepada kebahagiaan”. “Sekali kali aku tidak akan menggadaikannya…in syaa Allah”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s