Jalan indah di penghujung kegundahan

GambarPict. by kawan imut

Senja perlahan mengganti siang. Lalu lalang kendaraan bermotor menderum, berlomba bercepat cepat sampai ke tempat tujuan. Wajah wajah lelah disekitarku menghias suasana di halte bus sore hari itu. Hiruk pikuk sekitar tak mampu sejenakpun mengalihkan fikiran dalam kepalaku.
“Za…gimana Nak. Sudah kamu jawab Syarif?

“Nak…pertimbangkanlah dengan baik, apalagi yang kamu cari…?”

Ucapan ibu via telepon dua hari yang lalu masih terus memenuhi kepalaku. Kesekian kalinya ibu bertanya tentang pasangan hidup untukku.

Setahun yang lalu, saat aku ditugaskan mengontrol salah satu unit bisnis perusahaan di daerah asalku. Aku sempat meminta izin pada Ibu untuk menangguhkan rencana kembali ke rumah dalam waktu dekat. Sudah tiga tahun terakhir ini aku tinggal jauh dari keluarga besar dikarenakan penempatkan kerja. Ibu dan keluarga di pulau Sumatera sedangkan aku sekarang tinggal di Pulau Jawa.

“Bu…Za berniat ga jadi pulang awal tahun depan. Za mau ngelanjutin menuntut ilmu sembari kerja. Za membutuhkan minimal waktu satu tahun untuk menyelesaikannya.” Rayuku kepada ibu.

“Za…Za…kamu tuh maunya belajar, belajar aja. Kamukan sudah bekerja ditempat yang pantas. Sudah saatnya kamu sekarang memikirkan kapan kamu menikah.” Sergah ibu padaku

“Tapi Bu…sembari Za menyelesaikan tugas kerja, Za mau mengoptimalkan waktu yang ada. Mumpung Za ada di pulau Jawa. Kesempatan menuntut ilmu lebih terbuka luas dibandingkan di kota kita” ucapku membela diri

“Iya tapi Ibu khawatir kamu terlambat menikah. Kamu terus menyibukkan diri belajar dan bekerja. Ibu ingin melihat kamu menikah sebelum Ibu tiada Za…” ucap ibu menimpali kata kataku.

Seketika aku terdiam mendengar perkataan ibu.

“Ibu…Za sayang Ibu. Bukannya Za tidak ingin menikah dan tidak terfikir untuk menikah. Tapi jodoh Za belum datang Bu. Ini hanya karena Allah belum memberikan jodoh untuk Za segera” Ucapku menenangkan ibu.

“Syarif laki laki yang baik. Dia suka kamu. Setiap lebaran dia bersilaturahim ke rumah kita. Kenapa malah kamu tidak terlalu menghiraukannya Za?” Ucap Ibu.

“Iya Bu…Syarif laki laki yang baik tapi dia belum tentu jodoh Za dimasa yang akan datang. Jadi Za menjaga jarak dengannya, berteman seperti teman biasa dan tidak mau pacaran karena Za tidak mau terjerumus dalam perbuatan yang tidak diridhai Allah.”

“Jika Syarif langsung meminang Za. In syaa Allah Za pertimbangkan dengan baik dan menerimanya Bu.” Ucapku berusaha memberi penjelasan kepada Ibu.

===

Tiba tiba. Grttt..grttt..grttt… handphoneku bergetar pertanda sms masuk. Menginterupsi semua ingatan percakapanku dengan ibu yang berkecamuk dalam kepala.

“assalamu’alaikum…Ukhty. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada ukhty. Jika ukhty tidak dalam proses khitbah dan sudah siap untuk menikah, saya bermaksud memperkenalkan ukhty dengan salah seorang teman saya. Alhamdulillah bulan kemarin beliau baru menyelesaikan studi S2-nya. Dan meminta saya untuk dicarikan calon istri. Saya percaya ukhty adalah orang yang tepat karena ukhty berakhlak baik dan shaliha. Saya tunggu tanggapan dari ukhty segera.”

Seketika mataku terbelalak, bolak balik membaca kembali teks sms yang jelas sudah kufahami. Hanya untuk meyakinkan, bercampur campur rasa. Belum selesai satu urusan dengan Syarif yang memintaku menunggunya dua tahun sampai dia siap. Dan sekarang salah seorang ustadz (guru) mengirimkan sms hal yang senada. Di tengah kegundahanku untuk berbakti kepada Alm. Ayah dan terkhusus untuk membahagiakan ibu. Memilihkan suami yang baik adalah salah satu tanggung jawab orang tua. Maka orang tua nantinya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah mengenai hal ini. Jika aku benar memilih pasangan hidup sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Seseorang dinikahi karena empat perkara ; karena harta, keturunan dan kecantikan. Tetapi pilihlah olehmu pasangan hidup karena agamanya niscaya kamu selamat. Maka aku telah berbakti kepada orang tua karena membantu mereka memilih pasangan hidup yang sesuai ajaran Rasulullah. Dan in syaa Allah orang tuaku akan selamat dari pertanggung jawaban itu dan aku-pun selamat karena mempunyai suami yang shalih. Aku lebih memilih jalan jodoh seperti ini karena aku yakin akan janji Allah.

 

Sungguh Allah tidak pernah bermain main dalam menetapkan takdir-Nya

Tidak terkecuali takdir dengan siapa nanti kita akan bersua

Diantara kita tidak ada yang bisa menyangkal kehendak-Nya

Tanpa diduga, tanpa direkayasa, tanpa kita rasa, kita tengah berada dalam takdir-Nya

Kau dan Aku…

Saat kemarin memang tak saling sapa

Saat kemarin mungkin tak ada kesan apa

Karena kita memang tak saling kenal

Karena kita memang tak saling melintas dalam akal

Tapi kini, kita berada diantara takdir yang Kuasa

Membuktikan adanya Sang Pencipta

Awal kita tak saling sapa

Tapi kini kita saling berbicara

 

” Tidak perlu berlama lama dalam perkenalan atau bahkan menjalin komunikasi intens dalam bentuk apapun. Jika engkau telah menemukan pilihan hati, segera carilah informasi tentang pribadinya. Tetapkan satu alasan yang menjadikan dirimu yakin dengannya, mohonkanlah petunjuk dariNya, istikharahlah dan datangilah walinya…khitbahlah dia. Itulah cara laki laki mukmin memuliakan calon istrinya. Seperti kisah Umar yang meminangkan untuk anaknya Ashim Ibnu Umar Ibnu al Khathab hanya karena mendengar percakapan antara Ibu dan anak perempuan yang jujur. Seperti Ali Ibnu Abi thalib yang memberanikan diri meminang Fahthimah azzahrah putri Sang Baginda Rasulullah. Itulah ikhtiar sebenarnya dalam menjemput jodoh. Ibadah itu mudah maka janganlah dipersulit.”

Allahua’lambishawab.

Cerita_fiksiku.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s