KENAPA AKU MENULIS

“Kurniaty…istirahat menghadap ibu di kantor.” Ucap Bu Fatmawati didepan kelas pagi hari itu.

“Karena ibu nilai tulisan tangan kamu bagus jadi ibu minta tolong sama kamu ya…”

Begitu kurang lebih kalimat Bu Fatmawati 19 tahun lalu. Jelas kuingat kesan pertama saat pelajaran bahasa Indonesia. Gegara tulisan tangan dalam selembar kertas berisi tugas membuat karangan saat itu aku dipilih Bu Fatmawati menjadi sekretaris pribadinya. #cek ile gaya bener sekretaris.

Yah seperti itu kira kira si Ibu memuji sekaligus meminta bantuan padaku yang saat itu masih duduk di SMP kelas 2. Saya-nya ya nyengir kuda dan hampir terbang saat itu. Secara…apalah saya saat itu hanya siswi SMP seperti ABG lainnya yang kerap minta pengakuan atas eksistensi diri. Dan ahaaa ini sesuatu banget ya ada yang memuji, gak tanggung tanggung yang muji itu Guru lho. #sommmbong…sommmbong 😀

Saat ini kalau saya fikir fikir sambil duduk dibawah pohon jambu di pagi yang sendu, Bu Fat-lah yang berjasa hingga saya bisa punya hobi menulis sampai sekarang 😀

Betapa tidak, momen Ibu Fat memanggil saya ke kantor, memuji tulisan tangan dan menunjuk saya jadi sekretarisnya itu menjadi puncak sadarnya saya bahwa saya itu ada nilai plus juga rupanya bukan hanya centil sekelas ABG gitu. Itu yang membuat nilai harga diri saya naik ga kalah sama sembako yang naik melulu hahaa.

Rupanya hobi menulis ini juga tanpa saya sadari sudah ada sedari SD. Kalo gak salah sejak kelas 4 atau 5 SD saya suka nulis surat cinta gitu deh..hehe. Walau suratnya gak ada satupun yang nyampe ke tujuan. Soalnya surat surat cinta saya itu kalau sudah selesai ditulis terus saya simpan di tempat yang hanya saya yang tau 🙂

Aktivitas tulis menulis ini berlanjut sampai saya SMA. Tapi kali ini bukan sekelas surat cinta monyet lagi yang hanya ditulis di secarik kertas dan pakai pensil doang tapi pas SMA sudah agak elit. Diary…iya seingat saya pertama kali punya diary ya pas di SMA. Jadilah diary itu sebagai tong sampahnya curahan hati saya. Tempat bulan bulanan pena saya mencoret seenak udele dewe. Apapun asam manis pahitnya pengalaman di SMA semua masuk. Ketika episodenya manis dan berbunga bunga ya saya percantiklah tulisan di diary dengan spidol warna. Tapi ketika sedang bad mood karena episodenya asam bahkan pahit jadilah tuh diary bukan sekadar penuh tulisan tapi tambah aksen coretan gak karuan tempat pelampiasan emosi hehee. Pokoknya diary saya waktu itu sahabat yang paling top markotop dah.

Riwayat perjalanan tulis menulis sebagai hobi saya sempat mati suri juga. Alasannya sih klasik saat itu, sibuk kuliah. Alhamdulillah mati surinya hanya selama 3 tahunan. #segitu hanya…lammmaaa keles 🙂

Alhamdulillah akhirnya siuman. Nah ini bukan sekadar siuman biasa. Metamorfosanya pantas disyukuri. Pasalnya jika masa masa sekolah tulisan hanya berkutat tentang menumpahkan rasa, kepuasan pribadi dan hanya untuk diri sendiri, tanpa niat langitan. Tetapi tidak dengan aktivitas menulis setelah masa kuliah hingga saat ini. Semakin berkurangnya usia, sebenarnya saya sensi pakai kata yang tersusun dari tiga huruf itu tapi ya sudahlah usia tidak bisa dibohongi 🙂

Sebutlah tua. Iya semakin beranjak tua Alhamdulillah semakin menyadari jatah hidup berkurang. Akhirnya saya mulai aktif lagi menulis dengan niat dan semangat meninggalkan jejak, tentunya jejak yang bermanfaat untuk semua yang membacanya.

Jika semasa sekolah menulis untuk diri sendiri. Tetapi sekarang bertambah untuk bermanfaat bagi semua orang terkhusus untuk orang yang membaca karya tulis saya. Motto hidup yang lambat laun semakin menginternalisasi dalam diri, terambil dari pesan sosok paling mulia yang terlahir di bumi, Rasulullah SAW. “Khairunnas anfauhum linnas”. “Manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat untuk sesamanya”. Walau memang menulis hanyalah salah satu wasilah saja untuk menebar manfaat kebaikan. Tapi itu sangat saya syukuri. Bahwa Allah memberikan nikmat potensi sedikit bisa menulis. Karena potensi yang sedikit inilah semoga berdampak berbagai manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Istimewanya Rasul dibanding Nabi adalah terletak pada kemanfaatan ilmu dan wahyu yang mereka miliki. Jika Nabi untuk diri sendiri tetapi Rasul untuk umatnya. Kurang lebih begitulah yang ingin saya dapatkan dari manfaat menghasilkan karya tulis. Tergugah pula oleh salah satu quote Syaikh Sayyid Khutb yang saya baca beberapa tahun lalu “Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala, tapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus ribuan kepala”. Inilah sekira menjadi salah satu penambah motivasi saya untuk tetap menulis sampai saat ini.

Lalu bagaimana dengan manfaat lainnya dari aktivitas menulis. Semisal mendapat penghasilan tambahan. Jujur saya anggap itu sebagai bonus. Bukan sebagai motivasi utama. Pernah terbaca sebuah kalimat di dalam salah satu ayat qur’an, surat Al Qasas ayat 77. Allah. mengatakan “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi …”. Iya sekiranya teks ini sama dengan ungkapan “kejarlah akhirat tapi jangan lupa dunia”. Akhirat yang utama, dunia sambilan/bonus saja. Jadi memang aktivitas menulis bagi saya adalah aktivitas mengejar akhirat. Jika darinya dapat dunia, alhamdulillah bersyukur. Karena sekira jasad telah tiada maka hanya ada tiga jalan wasilah pahala terus mengalir. Jika tidak menjadi anak yang shalih, maka harus punya amal jariyah. Dan jika tidak keduanya maka harus diupayakan melakukan aktivitas yang menebar ilmu bermanfaat. Tidak ada pilihan keempat.

Nah…karena tidak ada pilihan keempat. Maka saya kira tepat jika memilih aktivitas menulis hingga menghasilkan karya yang bisa dinikmati oleh orang banyak yang bisa menjadi jalan amal jariyah dan tentunya semoga sebagai ilmu yang bermanfaat.  So that’s why I still writting. Kenapa aku menulis ya karena itu…sudah dibaca kan ya. #apa sih kalimat penutup gak penting 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s