Jalan indah di penghujung kegundahan

GambarPict. by kawan imut

Senja perlahan mengganti siang. Lalu lalang kendaraan bermotor menderum, berlomba bercepat cepat sampai ke tempat tujuan. Wajah wajah lelah disekitarku menghias suasana di halte bus sore hari itu. Hiruk pikuk sekitar tak mampu sejenakpun mengalihkan fikiran dalam kepalaku.
“Za…gimana Nak. Sudah kamu jawab Syarif?

“Nak…pertimbangkanlah dengan baik, apalagi yang kamu cari…?”

Ucapan ibu via telepon dua hari yang lalu masih terus memenuhi kepalaku. Kesekian kalinya ibu bertanya tentang pasangan hidup untukku.

Setahun yang lalu, saat aku ditugaskan mengontrol salah satu unit bisnis perusahaan di daerah asalku. Aku sempat meminta izin pada Ibu untuk menangguhkan rencana kembali ke rumah dalam waktu dekat. Sudah tiga tahun terakhir ini aku tinggal jauh dari keluarga besar dikarenakan penempatkan kerja. Ibu dan keluarga di pulau Sumatera sedangkan aku sekarang tinggal di Pulau Jawa.

“Bu…Za berniat ga jadi pulang awal tahun depan. Za mau ngelanjutin menuntut ilmu sembari kerja. Za membutuhkan minimal waktu satu tahun untuk menyelesaikannya.” Rayuku kepada ibu.

“Za…Za…kamu tuh maunya belajar, belajar aja. Kamukan sudah bekerja ditempat yang pantas. Sudah saatnya kamu sekarang memikirkan kapan kamu menikah.” Sergah ibu padaku

“Tapi Bu…sembari Za menyelesaikan tugas kerja, Za mau mengoptimalkan waktu yang ada. Mumpung Za ada di pulau Jawa. Kesempatan menuntut ilmu lebih terbuka luas dibandingkan di kota kita” ucapku membela diri

“Iya tapi Ibu khawatir kamu terlambat menikah. Kamu terus menyibukkan diri belajar dan bekerja. Ibu ingin melihat kamu menikah sebelum Ibu tiada Za…” ucap ibu menimpali kata kataku.

Seketika aku terdiam mendengar perkataan ibu.

“Ibu…Za sayang Ibu. Bukannya Za tidak ingin menikah dan tidak terfikir untuk menikah. Tapi jodoh Za belum datang Bu. Ini hanya karena Allah belum memberikan jodoh untuk Za segera” Ucapku menenangkan ibu.

“Syarif laki laki yang baik. Dia suka kamu. Setiap lebaran dia bersilaturahim ke rumah kita. Kenapa malah kamu tidak terlalu menghiraukannya Za?” Ucap Ibu.

“Iya Bu…Syarif laki laki yang baik tapi dia belum tentu jodoh Za dimasa yang akan datang. Jadi Za menjaga jarak dengannya, berteman seperti teman biasa dan tidak mau pacaran karena Za tidak mau terjerumus dalam perbuatan yang tidak diridhai Allah.”

“Jika Syarif langsung meminang Za. In syaa Allah Za pertimbangkan dengan baik dan menerimanya Bu.” Ucapku berusaha memberi penjelasan kepada Ibu.

===

Tiba tiba. Grttt..grttt..grttt… handphoneku bergetar pertanda sms masuk. Menginterupsi semua ingatan percakapanku dengan ibu yang berkecamuk dalam kepala.

“assalamu’alaikum…Ukhty. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada ukhty. Jika ukhty tidak dalam proses khitbah dan sudah siap untuk menikah, saya bermaksud memperkenalkan ukhty dengan salah seorang teman saya. Alhamdulillah bulan kemarin beliau baru menyelesaikan studi S2-nya. Dan meminta saya untuk dicarikan calon istri. Saya percaya ukhty adalah orang yang tepat karena ukhty berakhlak baik dan shaliha. Saya tunggu tanggapan dari ukhty segera.”

Seketika mataku terbelalak, bolak balik membaca kembali teks sms yang jelas sudah kufahami. Hanya untuk meyakinkan, bercampur campur rasa. Belum selesai satu urusan dengan Syarif yang memintaku menunggunya dua tahun sampai dia siap. Dan sekarang salah seorang ustadz (guru) mengirimkan sms hal yang senada. Di tengah kegundahanku untuk berbakti kepada Alm. Ayah dan terkhusus untuk membahagiakan ibu. Memilihkan suami yang baik adalah salah satu tanggung jawab orang tua. Maka orang tua nantinya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah mengenai hal ini. Jika aku benar memilih pasangan hidup sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Seseorang dinikahi karena empat perkara ; karena harta, keturunan dan kecantikan. Tetapi pilihlah olehmu pasangan hidup karena agamanya niscaya kamu selamat. Maka aku telah berbakti kepada orang tua karena membantu mereka memilih pasangan hidup yang sesuai ajaran Rasulullah. Dan in syaa Allah orang tuaku akan selamat dari pertanggung jawaban itu dan aku-pun selamat karena mempunyai suami yang shalih. Aku lebih memilih jalan jodoh seperti ini karena aku yakin akan janji Allah.

 

Sungguh Allah tidak pernah bermain main dalam menetapkan takdir-Nya

Tidak terkecuali takdir dengan siapa nanti kita akan bersua

Diantara kita tidak ada yang bisa menyangkal kehendak-Nya

Tanpa diduga, tanpa direkayasa, tanpa kita rasa, kita tengah berada dalam takdir-Nya

Kau dan Aku…

Saat kemarin memang tak saling sapa

Saat kemarin mungkin tak ada kesan apa

Karena kita memang tak saling kenal

Karena kita memang tak saling melintas dalam akal

Tapi kini, kita berada diantara takdir yang Kuasa

Membuktikan adanya Sang Pencipta

Awal kita tak saling sapa

Tapi kini kita saling berbicara

 

” Tidak perlu berlama lama dalam perkenalan atau bahkan menjalin komunikasi intens dalam bentuk apapun. Jika engkau telah menemukan pilihan hati, segera carilah informasi tentang pribadinya. Tetapkan satu alasan yang menjadikan dirimu yakin dengannya, mohonkanlah petunjuk dariNya, istikharahlah dan datangilah walinya…khitbahlah dia. Itulah cara laki laki mukmin memuliakan calon istrinya. Seperti kisah Umar yang meminangkan untuk anaknya Ashim Ibnu Umar Ibnu al Khathab hanya karena mendengar percakapan antara Ibu dan anak perempuan yang jujur. Seperti Ali Ibnu Abi thalib yang memberanikan diri meminang Fahthimah azzahrah putri Sang Baginda Rasulullah. Itulah ikhtiar sebenarnya dalam menjemput jodoh. Ibadah itu mudah maka janganlah dipersulit.”

Allahua’lambishawab.

Cerita_fiksiku.

 

Iklan

Kaos Kakipun Menjadi Saksi

Gambar

“Baiklah teman teman…bismillah, kita turun sekarang!” sergahku memecah suasana.

“Apaaa…” kesemua temanku menyahut heran.

“Duh Ni, tapi kan hujannya belum juga reda…dingin bangettt…” ucap salah satu temanku seraya melipatkan kedua kaki dan merapatkan jaket yang dipakainya.

Seketika suasana di dalam mobil senyap kembali. Kami semua memandang pemandangan diluar melalui jendela.

Kami sekarang berada di atas ketinggian 1800 mdpl. Area sekitar Gunung Wilis Jawa Timur. Iya…tujuan perjalanan kami kali ini adalah Dolo, air terjun Dolo yang berada di kaki gunung Wilis Jawa Timur. Setelah melalui jalan yang mendaki ditemani gemuruh angin dan hujan, kami tetap melanjutkan perjalan menuju Dolo. Dan akhirnya alhamdulillah kami selamat sampai diatas pegunungan, jalan menuju air terjun Dolo.

“Tapi sampai kapan kita di sini???” “Percuma dong kita ke sini tapi tidak turun ke bawah, melihat Dolo…” sungut temanku.

“Iya…susah payah kita sudah sampai di sini, kalo nunggu hujan, ya ga tau kapan hujannya reda” imbuh temanku yang lain.

“Iya makanya…hayuk kita keluar sekarang…kita shalat dzuhur dulu baru kita turun kebawah” imbuhku.

Benar saja…segera setelah aku buka pintu mobil, desiran angin yang membawa buliran buliran air hujan menerpa wajahku. Berrr…angin semuanya menyelinap masuk ke seluruh tubuhku. Seketika itu juga aku menggigil dan merasakan bibir serta jemari tanganku nyaris beku. Walau aku sudah pakai pakaian tebal dan berlapis lapis, tetap saja aku merasakan dinginnya udara pada saat itu.

Daerah sekitar pegunungan dipenuhi kabut dengan jarak pandang hanya dua meter dan cuaca ekstrim, kami tetap turun ke bawah menuju kaki Gunung Wilis tempat air terjun Dolo bersemayam.

Anak tangga demi anak tangga kami laluidengan kondisi tubuh yang separuh menggigil dan jemari kaki serta tangan yang nyaris kaku. Kami berusaha tetap melangkah menyusuri jalan. Karena tidak kuat dengan kondisi yang membuat kaki kram, akhirnya kami memutuskan sementara singgah di sebuah (gubuk) warung sederhana. Di sepanjang jalan menuju Dolo, tepatnya dibibir jurang yang terjal.Beberapa warung sengaja dibuat untuk para pengunjung seperti kami ini untuk rehat sejenak.

“Ni, gimana kalo kita buka kaos kaki aja?Kakiku udah hampir kram..” Ucap salah satu temanku sambil meremas kakinya yang dibalut kaos kaki yang basah kuyup.

“oalah…buka kaos kaki?” imbuhku.

“iya, kan ga ada laki laki lewat…”.

“hmmm…gimana ya?”

“iya kakiku juga kedinginan…gimana kalo kita buka kaos kakinya saat berada didalam warung saja ya, nanti kita pakai lagi saat kita melanjutkan perjalanan” ucapku.

“Tapi kaki kita kan sudah kecut…dingin banget“ sahut temanku.

“Tenang, In syaa Allah syariat tidak akan membuat kita sampai mati…” imbuhku kepada temanku sambil tersenyum.

“baiklah Ni…” sahut temanku.

Iya, kami semua adalah wanita muslimah yang terus berupaya menjadi wanita muslimah sesungguhnya. Mulai dengan mengenakan busana yang disyariatkan agama. Dari atas hingga ke bawah dipakaikan penutup. Pastinya kecuali wajah dan telapak tangan. Sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an surat An Nur 31 dan Al Ahzab 59.

Seketika aku teringat pengalaman pada masa awal mengenakan hijab sebelas tahun yang lalu.

“alah Ni…mau ke warung aja pakai kaos kaki segala…” “lah warungnnya deket ini…lagian kan ini malam, orang juga ga kelihatan kamu pakai kaos kaki atau engga” seloroh kakakku.

Atau ketika aku hendak menjemur pakaian dan membeli sayur ke Bapak tukang sayur…Aku selalu memakai kerudung, gamis dan kaos kaki sebelum keluar rumah.

“haduhhh adikku ini, ntar kamu dibilang orang aneh lho sama tetangga masa’ pakai sandal jepit pakai kaos kaki segala…” ucap kakakku

“gapapa kali kak…justru orang aneh itu yang dicari…” sahutku seraya tersenyum.

Nyengir sendiri kalo ingat masa masa itu. Tapi alhamdulillah sekarang semua sudah pada faham kebiasaan dan memaklumi prinsip adiknya ini.

Iya, memang di dalam Al Qur’an tidak secara eksplisit Allah perintahkan memakai kaos kaki. Tetapi perintah menutup aurat bagi wanita mukmin sangat jelas disebutkan. Aurat wanita itu mulai dari atas kepala hingga ujung kaki kecuali wajah dan telapak tangan. Sehingga menggunakan kaos kakipun termasuk menjadi sebuah kewajiban jika tujuannya untuk menutup aurat kaki wanita mukmin.

Pengalaman dibilang orang aneh, sok alim sampai resiko yang langsung diterima seperti pengalaman kedinginan di Dolo semoga tidak menjadikanku termasuk orang orang yang menggadaikan hijab.

Alhamdulillah akhirnya kami berada di anak tangga terakhir, jalan menuju Dolo. MasyaAllah air terjunnya sungguh indah. Tak henti kami bertasbih karena kagum melihat keindahan air terjun Dolo.

“Mutiara itu adanya jauh didasar lautan”. Tertutup, sulit dijangkau tetapi bernilai.

“Aku yakin pakaian takwa akan menghantarkanku kepada kebahagiaan”. “Sekali kali aku tidak akan menggadaikannya…in syaa Allah”

Perjalanan Akhir Tahun 2013

Perjalanan Akhir Tahun 2013

Melihat…

Menjadikan mata sebagai saksi atas keberadaan Sang Khalik.

Merasakan…

Menjadikan hati untuk membenarkan atas kekuasaan Sang Rabbi pencipta alam semesta.

Lihatlah dan rasakanlah keagungan Ilahi Rabbi.

Adakah Ilah yang lain selain Dia.

Bahkan seekor lalatpun, manusia tak sanggup menciptanya.

Bahkan manusia tersombong di masa kedikjayaannyapun tak bisa menjadikan dirinya hidup dalam keabadian.

Berjalanlah di bumi Allah yang luas ini.

Saksikanlah keagungan penciptaanNya.

Benarkanlah keberadaanNya.

 

Catatan perjalanan hamba dhaif
Jogja – Kediri

 

Muslimah tidak butuh emansipasi wanita

Kartini jilbabIndonesia khususnya akrab sekali dengan istilah ini. Emansipasi wanita. Tersebut satu nama seorang tokoh paling berjasa dalam hal ini, Pahlawan Wanita Indonesia Ibu Raden Ajeng Kartini. Kiprahnya semasa hidup yang konsisten membela hak hak kaumnya dan mewariskan banyak tulisan, salah satunya tulisan fenomenal yang berjudul “Habis gelap terbitlah terang” konon menginspirasi banyak wanita Indonesia untuk “membela” hak haknya dalam kehidupan sosial masyarakat. Masyarakat modern kini dapat melihat salah satu contoh dari pengaruh emansipasi wanita adalah banyaknya wanita wanita Indonesia berkiprah dalam dunia pekerjaan yang sama dengan kaum pria. Hampir tidak ada lagi dikriminasi dari aspek tersebut. Kini eksistensi wanita tidak bisa lagi dipandang sebelah mata dalam kehidupan sosial masyarakat. Semua hal yang didapat kaum pria mulai dari penerimaan di keluarga dan masyarakat, pendidikan, pekerjaan, kaum wanitapun mendapatkan hal yang sama. Tidak ada perbedaan sama sekali.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria.

Jadi sempat terbersit dalam hati. Jika pengertian emansipasi adalah seperti yang disebutkan di atas maka terbayang dikriminasi dan perbudakan seperti apa yang dialami oleh Ibu Kartini dan wanita wanita pada zamannya. Sehingga sahabat surat menyurat Ibu Kartini, seorang wanita Eropa terinspirasi untuk membukukan semua tulisan surat Ibu Kartini kepadanya yang terekam dalam buku fenomenal itu. Masa hidupnya Ibu Kartini kurang lebih berjarak empat ratusan tahun sesudah masa hidupnya Rasulullah. Masa awal syariat Islam disebarkan. Artinya perbudakan terhadap wanita sudah dibela semenjak empat ratus tahun yang lalu. Sebagaimana orang jahiliyah terdahulu betapa mereka merasa terhina jika mendapat anak wanita, dan mereka membunuh setiap anak wanita mereka yang terlahir di dunia (QS. An Nahl : 58 – 59). Segala perlakuan jahil terhadap wanita telah dilawan. Dan segala hukum mengenai syariat memperlakukan wanita telah ditetapkan. Wanita sangat dimuliakan oleh Islam.

Kalau begitu sesungguhnya wanita muslimah tidak membutuhkan emansipasi wanita. Karena muslimah sudah merdeka dan dimuliakan sejak syariat disebarkan oleh Rasulullah SAW. Jauh dari perlakuan seperti yang diisyaratkan dalam pengertian emansipasi wanita. Keadilan dan persamaan hak sejatinya yang diminta dan dibela oleh kaum feminisme pengusung emansipasi wanita telah ditetapkan dan tak satupun syariat Allah merugikan manusia. Andai mereka para kaum pengusung emansipasi memakai kacamata persepsi yang sama. Bahwa adil itu bukanlah membagi sesuatu menjadi serba sama. Merujuk pada Al qur’an surat An Nisa ayat 34 bahwa “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…”. Jelas ada sisi kelemahan wanita yang bisa ditutupi oleh kaum pria khususnya secara fisik. Dan wanita sangat butuh kaum pria sebagai pelindung dan pendidik bagi dirinya.

Sehingga jika boleh disimpulkan bahwa jika ada wanita disebuah negara kuat menggaungkan penegakan emansipasi wanita maka dipastikan syariat Islam belum sepenuhnya diterapkan dinegara tersebut. Atau pemikiran mengenai emansipasi itulah yang telah kebablasan. Atau bahkan pribadi maupun organisasi yang mengusung faham emansipasi telah dimakar oleh pihak pihak tertentu.

Betapa tidak…di zaman sekarang banyak anak yang sedari awal telah menyandang titel yatim piatu sebelum Ayah dan Ibunya benar benar tiada. Madrasah pertama bagi anak anak telah beralih fungsi menjadi mesin pencetak uang maupun budak eksistensi. Wanita zaman sekarang lebih bangga menyandang titel wanita karir dibanding menyandang titel Ibu Rumah Tangga. Walau memang menjadi wanita karir di era sekarang terlalu menggiurkan karena dorongan kebutuhan ekonomi. Tentu sangat luar biasa ketika ada seorang Ibu Rumah Tangga yang merangkap juga menjadi wanita karir. Sungguh tantangan yang luar biasa. Karena memutuskan hanya menjadi Ibu Rumah Tangga pun tanpa “melakukan” apa apa untuk mendidik dan menjaga anak serta keluarganya sebuah hal yang kurang tepat.

Saat ini media ramai memberitakan mengenai kenakalan remaja, tingkat perceraian yang tinggi dan banyak terjadi KDRT seolah semua melempar kesalahan. Padahal yang diberi amanah pertama dalam pendidikan generasi adalah keluarga. Maka jelas sudah sesungguhnya muslimah tidak butuh emansipasi wanita jika negara telah menegakkan syariat Islam, jika setiap pribadi kaum adam mengetahui, menjunjung tinggi martabat dan memperlakukan kaum hawa sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Dan bagi wanita cukuplah janji Allah yang dipegang bahwa

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab : 35)

Kedudukan kaum pria dan wanita sama dimata Allah kecuali iman dan takwanya.

Allahua’lam bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Allah bersamamu

Gambar

bertutur lirih sang dhaif pada penghujung malam itu
mengadukan segala rasa yang selama ini tertahan
kegundahan membuncah, mencabik hati yang lemah
menguras habis perasaan serta asa yang taktersampaikan

“Jangan tinggalkan hamba Ya Allah.”
“Jangan tingggalkan hamba Ya Allah.”
“Jangan tinggalkan hamba Ya Allah.”

Hari ini sedih, besok insyaAllah gembira
Hari ini gundah, besok insyaAllah bahagia
Hari ini kecewa, besok insyaAllah bersuka cita

itulah rahasia waktu yang diputar Allah untuk kita
Sebuah keniscayaan yang mustahil kita kendalikan
sedih, gundah, kecewa akan berganti gembira, bahagia dan bersuka cita
karena itulah yang telah Allah janjikan

Hatimu maka kuatkanlah
Hatimu maka lapangkanlah
Hatimu maka ridhakanlah
InsyaAllah semuanya berakhir dalam kebahagiaan jika kita bertakwa

Ingatlah bahwa hanya kepada Allah saja kita mengabdi
Ingatlah bahwa hanya kepada Allah saja kita memohon pertolongan
Sedih, gundah, kecewa hari ini adalah tanda betapa Allah masih mencintai kita.
Allah hanya ingin kita kembali pada-Nya.
Allah hanya ingin kita mengangkat kedua tangan kita untuk bermunajat kepada-Nya.
Allah menegur kita yang selama ini telah lupa akan keberadaan-Nya.
Allah mengingatkan kita Bahwa kita hanyalah hamba yang lemah tak berdaya.

Sungguh Allah tidak pernah lelah mendengar segala rintihan hati kita
Sungguh Allah tidak pernah meninggalkan kita sedetikpun
Maka terus mendekatlah kepada Allah
hingga akhirnya kita bersyukur dengan sedih, gundah, dan kecewa.
Karena mereka telah menjadi perantara untuk kita bisa kembali dekat kepada Allah.

hasbunallah wani’mal wakil ni’malmaula wani’mannashir
hanya Allah tempat sebaik baik memohon perlindungan
hanya Allah tempat sebaik baik meminta pertolongan

Allah…jangan tinggalkan kami
Allah…Maafkanlah kami
Allah…Rahmatilah kami

katakan itu wahai saudariku…dan mulailah tersenyum karena Allah.

menanti di sayup rindu

menanti di sayup rindu


Sabarlah menunggu janji Allah kan pasti
Hadir tuk datang menjemput hatimu
Sabarlah menanti usahlah ragu
Kekasih kan datang sesuai dengan iman di hati
Sabarlah menanti…
Bila di dunia dia tiada
Moga di syurga dia telah menunggu
Bila di dunia dia tiada
Moga di syurga dia telah menanti

Syair Nasyid Maidany – menanti di sayup rindu

Buku Antologi Kisah Inspiratif Hijabers :)

Buku Antologi Kisah Inspiratif Hijabers :)

Testimoni:

“Hijab bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi para muslimah. Tak pandang tempat maupun profesi. Buku ini membuat kita memahami bahwa kita tidak sendiri dalam menghadapi tantangan berhijab” [@Alga_Biru_ , Redaktur Majalah Remaja Islam DRISE]

“Hijab dan karier adalah dua hal yang dilematis bagi seorang muslimah.Jika pilih hijab,siap-siap OUT dari karier.Jika pilih karier,tergadailah akidahnya.Galau memang!Tapi tenang saja,belajarlah dari buku ini.Kisah muslimah tangguh yang tak ingin tanggalkan hijab demi opsesi karier duniawi.”(AL-Khanza Demolisher,penulis buku Bidadari Revolusi,@Lastri_aND)
================

Siapa yang menduga bahwa perjuangan melaksanakan syariat tidak menuai banyak kendala?Bahkan coba senantiasa menyapa di saat diri bersungguh-sungguh untuk taat kepadaNya. (Rahma A.Sy_Sst.. It’s My Secret Letter)
Kisah-kisah inspiratif yang semakin memantapkan hati untuk berhijab syar’i meski berbagai cobaan dan ujian harus dilewati para tokoh dalam buku ini.

“Sebuah karya untuk menguatkan para hijaber dalam melaksanakan syari’at-Nya. Meyakinkan, bahwa kita tidak pernah sendiri dalam memperjuangkan hijab syar’i.
Duhai ukhty, terimalah persembahan cinta kami.. ‘Secret Letter for Hijaber’ kumpulan kisah inspiratif perjuangan hijabers.”

Kontributor buku: Mia Yunita , Rizka Ukhlaiya , Ditri A. Rizki , Lenni Ika Wahyudiasti , Yuni Astuti , Ning Eti Sehati, Imas Siti Liawati , Amalia Sani II, Euis Muadatul Hasanah Part II , Titi Arifi Wiranti , Ummu Maila , Qotrunnada Safaira Azzahra , Kurniaty Salam, Yuna Zafirah, Fitri Susantii

===
Harga Buku Rp. 27.500,- (blm ongkir)

Untuk Pemesanan Silakan hubungi :
Kurniaty Salam
PIN BB 7580BE4C
SMS, Telp dan WA 085758890786